Dan Mereka pun Berkorban

Allahu Akbar
Hari ini seluruh dunia tengah menjadi pembunuh berdarah dingin. Makhluk-makhluk malang tidak berdosa dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang untuk kemudian disembelih dan dimakan. Meskipun mereka bau, mereka unyu….

Kambing-kambing dan sapi-sapi tengah menanti sakaratul maut. Detik-detik kematian benar-benar mereka nikmati. Mereka saling memandang, saling melenguh dan mengembik, karena sebentar lagi mereka tidak akan bisa melakukan itu. Galau tingkat tinggi.

Tapi mereka tentu bangga akan hal itu. Mereka bangga menjadi korban. Mereka bangga menjadi salah satu umat kambing pertama yang disembelih ketika Ibrahim menjalankan perintah Allah menyembelih Ismail. Mereka bangga karena mereka merupakan keturunan nenek moyang mereka yang itu.

Yah, apa sih yang bisa dicari di dunia ini? ujar seekor kambing yang tidak mau disebutkan namanya. Kini lapangan untuk merumput tidak sebanyak kakek nenek saya dulu. Kini untuk makan pun kami harus disuapi karena kami tidak bisa mencari sendiri rumput kesukaan kami.

Nenek saya pernah mengatakan ada sebuah rumput yang sangat lezat, ujar seekor domba yang juga enggan menyebutkan namanya. Tapi tumbuhnya hanya tertentu saja dan saya pun hanya melihat sekali. Nenek menyimpannya untuk cucu-cucunya.
Ah, sulitnya hidup para hewan herbivora ini ternyata menjadi salah satu motivasi bagi mereka untuk dikurbankan. Tentu saja setelah alasan pertama, berjihad di jalan Allah.

Akan sangat bangga seekor kambing, domba, atau sapi ketika seorang manusia membelinya untuk dikurbankan dari uang yang halal. Seperti seekor sapi yang menamakan dirinya Cow. Ia dibeli oleh sepasang suami istri yang baru saja menikah. Mereka berdua mengumpulkan uang selama satu tahun untuk membeli seekor sapi yang harganya cukup mahal. β€œUntuk membersihkan harta,β€œ ujar si wanita.

Persis seperti apa yang diungkapkan guru-guru agama terdahulu.

Namun bagaimanakah perasaan seekor hewan kurban yang dibeli dengan uang tidak terlalu suci dan tujuan ia membeli adalah agar orang berterimakasih padanya?

Aku gemuk, dan sehat, dan mahal harganya, kata sapi yang dibeli dengan uang sedikit tidak suci. Ia menolak menyebutkan namanya, maupun klannya. Tapi orang itu yang membeliku. Uang itu ia dapat dari kantornya. Kantornya mendapatkan uang itu sebagai upaya tutup mulut. Ah, kotor sekali uang yang dia pakai untuk membeliku.

Terlebih lagi, lanjut si sapi, kita sebut saja namanya Bunga (*loh?), ia membeliku untuk dikurbankan hanya karena ia ingin dipandang kaya di kompleksnya. Padahal tanpa itu pun orang sudah tahu ia banyak uang. Ia ingin dipandang dermawan, padahal orang pun sudah tahu ia bermaksud riya.

Ah, Bunga, sebetulnya kamu tidak haram, kata sapi yang berdiri di sebelahnya, sebut saja namanya Mawar. Kamu suci, dan pengorbananmu tidak lah sia-sia. Namun tidak satu pahala pun yang akan didapatkan orang itu. Ia justru merugi karena dia lah yang sia-sia.

Semburat senyum menghiasi bibir Bunga, yang membuatnya semakin unyu. Ah, mari kita akhiri saja semua ini. Beberapa saat lagi sapi-sapi, domba-domba, dan kambing-kambing itu akan pergi meninggalkan kita semua. Mereka akan berdiri di tempat yang suci karena pengorbanan mereka. Manusia-manusia yang menyucikan harta mereka dengan berkurban akan merasakan nikmatnya sop iga, iga bakar, tenderloin steak, T-Bone, lamb chop, dan tentu saja gulai kambing. Nyam nyam nyam….

Alles Gute zum Ied Al Adha, 10 Dzulhijah 1432, 6 November 2011!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s