Hari-hari Pertama Menjadi Reporter Bandung

29 September 2011
Ternyata bekerja menjadi seorang reporter di Bandung sulit juga, ya. Saya tidak menyangka akan seberat dan sesulit ini. Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan di Jakarta atau Depok. Banyak hal-hal yang diaminkan di Jakarta tapi tidak bisa diterima di Bandung. Secara umum, saya menggambarkan Bandung adalah hutan rimba yang sulit ditembus.
Tolong garis bawahi kata ‘sulit’ di sini. Saya tidak mengatakan tidak bisa ditembus, ya….

Nah, hari pertama saya liputan di Bandung adalah tanggal 25 September 2011. Saya merasa menjadi orang paling bodoh di sini. Begitu pula hari kedua dan hari berikutnya. Pada Rabu (28/9) saya diberi pengarahan yang bertujuan untuk mengganti pola pikir saya terhadap Jakarta dan mengenalkan pola pikir Bandung.

Pola pikir Jakata yang saya bawa adalah di Bandung saya bisa mendapat pantulan berita dari orang lain. Pantulan berita ini maksudnya berita nyaris utuh seperti yang sering dilakukan oleh teman-teman di Jakarta. Di sini, tidak ada yang namanya bagi-bagi berita. Yang ada hanya bagi-bagi info dan itu pun sekadar saja.

Kedua, di sini tidak ada sistem stripping berita. Oleh karena jumlah orang yang sedikit, sedapat mungkin reporter harus menulis berita utuh. Kalaupun ingin stripping, penjahit berita menjadi sebuah berita utuh adalah reporter sendiri. Kecuali kalau jahitan itu merupakan dua berita dari dua daerah yang berbeda.

Ketiga, di sini saya menggarap semuanya. Tolong dibaca baik-baik kata ‘semua’ itu. Semua di sini artinya saya menggarap seluruh desk yang ada di Jakarta. saya menulis berita kota, ekonomi, politik, olah raga, dan agama. Dan saya harus mampu memahami seluruh situasi yang sedang //hot// di Jawa Barat. Tidak hanya Kota Bandung saja, tetapi juga JAWA BARAT. Yah, memang tidak harus ke lokasi, tapi isu-isu satu provinsi saya cari di Gedung Sate.

Nah, melihat kondisi saya meliput selama lima hari saya merasa malu dengan kegiatan saya di Jakarta lalu. Jakarta tidak ada apa-apanya. Kata orang Jakarta adalah kota yang ganas, tapi menurut saya, Bandung jauh lebih mengerikan. Karena di sini saya harus berjuang sendiri untuk berlari dan mencari.

Tapi itulah tantangannya. Saya meminta kepada Kepala Newsroom untuk dipindah ke Bandung karena selama ini saya melihat reporter yang dikirim ke Bandung sangatlah baik kinerjanya. Maka saya pun ingin seperti mereka. Saya ingin belajar dari kesusahan yang dihadapi di Bandung, kemudian memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berharga dalam hidup saya.

Pekerjaan keras ini saya dapat dari seorang redaktur yang saya pandang sebagai orang yang hebat. Dia begitu teliti memeriksa setiap kalimat dalam pekerjaan saya bahkan kutipan yang saya buat. Dia melihat jauh ke depan. Apa dampak berita yang saya buat terhadap pembaca dan apa yang akan terjadi apabila saya menulis begini atau begitu. Itulah. Saya berharap saya bisa belajar banyak dari beliau.

Nah, ada yang tertarik mencoba ‘wahana’ Republika Bandung? Trans Studio Bandung? Kalaaaaaaaah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s