Reporter of the Month

9. September 2011
//Reporter of the month//. Hal pertama yang keluar di benak saya adalah: tidak mungkin foto saya akan terpampang di salah satu bulan itu. saingannya terlalu berat. Abe, esthi, bang udin, hafil. Semuanya hebat-hebat, menurutku dan mereka sangat produktif. Sedangkan aku?
Kita lihat di depok. Berita saya paling banyak hanya 5 berita per hari. Itu pun kadang baru selesai malam. Saya tidak seperti nura yang bisa mengirim 4 sampai 7 berita sehari dan itu selalu konsisten.
Di pendidikan apa lagi. Kadang saya hanya mengirim satu berita setiap hari. Saya juga tidak berusaha untuk mencari isu-isu pendidikan bagus di sekolah atau di daerah. Hanya menunggu dan berkutat di kementerian pendidikan saja.
Nah, karena produktivitas yang kurang dan sikapku yang malas, saya dicampakkan ke Iptek dan Khazanah. Apa itu, kan? Saya tidak tahu harus menulis apa. Tapi saya dibimbing oleh redakturku, Yeyen, untuk mencari-cari isu iptek dan Khazanah dipandu oleh bu wachidah. Hanya butuh satu minggu saya menyukai pekerjaan baru sebagai reporter iptek. Saya pikir hal itu sangat menarik karena banyak ilmu pengetahuan yang saya dapat dengannya.
Seketika itu juga saya dipindah ke Islam Digest. Bukannya saya tidak suka. Ada hal-hal baru yang saya dapat dari sini, salah satunya mengembangkan bahasa inggris dan sejarah islam. Saya jadi lebih tahu banyak hal dan ternyata sejarahnya banyak yang menarik meskipun terkadang membosankan. Tapi apalah saya yang hanya seorang calon reporter harus duduk di dalam kantor dan mengerjakan sesuatu yang sudah dikerjakan orang lain. Saya hanya menerjemahkan teks orang dan meramunya kembali.
Saya merasa jenuh dengan pekerjaan itu sampai-sampai aku dipanggil bos dan ditanya. Mengapa kamu tidak fokus dengan pekerjaanmu?
Saya bosan, Pak. Sebagai seorang carep, tidak pada tempatnya saya duduk di Islam Digest. Saya masih perlu mengembangkan teknik liputan saya dan masih harus banyak belajar di luar untuk mengetahui isu dan menjadi seorang wartawan.
Kamu mau ditaro di jabo (Kabar Kota) lagi?
Dengan senang hati. Tidak apa-apa saya diurai bersama carep-carep yang baru. Saya dengan senang hati menerimanya. Tidak keberatan. Saya takut nanti kinerja saya hancur karena tidak pernah liputan lagi.
Atau kamu mau di Bandung?
(Saya berpikir sejenak) Kenapa tidak? Kalau di Bandung saya bisa pakai motor. Saya usahakan.
Sejenak saya merasa ragu pindah ke Bandung karena di sana ada satu orang yang cukup keras pendiriannya. Tapi saya yakin dia pun akan membantu saya berkembang. Terlalu lembek pun tidak baik rasanya.
Akhirnya jadilah saya dipindahkan ke Bandung akhir september ini.
Nah sampai mana kita tadi? Reporter of the month.
Itu saya dapatkan ketika saya dipercaya liputan di Nagreg selama 12 hari. Saya pun tidak berharap banyak untuk liputan itu. satu-satunya hal yang saya inginkan adalah keluar dan liputan. Ketika saya dipilih ke Nagreg, saya bahagia. Mungkin itu yang membuat saya bersemangat mencari berita, apapun bentuknya.
Hal ini dipermudah dengan pacar saya yang setia mengantar. Dan kalimat-kalimat ditto yang memanas-manasi saya. Aku saja bisa bikin 12 berita kalau liputan mudik, kata dia. siapa yang tidak emosi?
Selain itu, saya juga dipicu oleh Ani, seorang reporter baru. Dia ditaruh di Cikampek yang saya rasa sangatlah menarik. Sedikit sedih, ketika saya ditaruh di Nagreg karena jalur tersebut ternyata membosankan.
Kenapa membosankan? Karena tidak ada lagi tukang ganjal mobil karena jalurnya sudah landai. Apa yang bisa saya buat di sana? Pikiran itu membuat saya setengah hati. Tapi karena saya lah yang meminta ditempatkan di Nagreg, maka saya harus bertanggung jawab.
Saya tidak menyangka dalam dua belas hari saya bisa mengumpulkan 60 berita. Padahal saya banyak dibantu sms dari Kapolres Bandung. saya sempat dimarahi oleh teman reporter spesialis mabes polri yang kenal betul dengan polisi. Kalau nulis nama polisi itu harus lengkap dengan pangkatnya. Trus dia juga mengatakan kalau aku harus beli peta karena gak bisa membedakan kabupaten dan kota bandung. Whattt?
Nah, di kantor saya pun merasa dikelas dua kan. Mereka selalu memuji-puji seorang reporter di bawah saya yang kualitas tulisannya bagus dan sangat baik. Sayau merasa terhina dan dilupakan. Padahal setiap hari saya ada di kantor. Hey, this is me. Can’t you see me?
Itu hal pertama yang membuat saya sangat kesal dan ingin membuktikan kalau saya ada di Republika. Tidak hanya mereka-mereka yang tinggal di DPR, MK, MA, dan kementerian-kementerian itu. meskipun saya menulis sebuah ficer yang orang lain pun tidak akan membaca, toh saya ikut menjadi tulang punggung Republika.
Tapi saya tidak menyangka hasilnya akan sebesar ini. yah, mungkin ini ecek-ecek karena bulanan. Tapi bagi saya ini sangat berarti. Saya pernah meminta pada Tuhan, saya ingin menjadi orang yang dianggap di kantor. Dan Tuhan memenuhinya—berkah ramadhan.
Tapi, saya takut apa yang saya inginkan ini—yang sudah terjadi ini—adalah yang terbaik buat saya. Mudah-mudahan ini pelajaran bagi saya untuk tidak memohon hal-hal yang aneh yang tujuannya hanya untuk menyombongkan diri di depan orang lain. Mudah-mudahan ini juga dapat menjadi motivasi bagi saya untuk terus menjadi orang yang lebih baik. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s