Bagaimana Harimau Mendapatkan Belangnya

Pada zaman dahulu kala, ketika harimau tidak mempunyai belang di punggungnya dan kelinci masih memiliki ekor, hiduplah seekor harimau yang mempunyai sebuah ladang pertanian. Ladang tersebut ditumbuhi begitu banyak rumput liar, sehingga harimau mencari pekerja untuk membersihkan ladangnya tersebut.
Harimau memanggil semua binatang liar dan berkata,
“Aku sedang membutuhkan seorang pekerja yang baik yang mau membersihkan rumput-rumput liar dari ladangku. Siapapun yang akan mengerjakan pekerjaan ini akan mendapatkan lembu sebagai bayarannya.“
Yang menawarkan diri pertama kali untuk bekerja adalah kera. Harimau mencoba melihat bagaimana kera bekerja, namun kera bukanlah pekerja yang baik. Kera tidak bekerja dengan benar untuk membersihkan apapun. Harimau segera memecat kera dan tidak membayar upahnya.
Lalu harimau mempekerjakan kambing. Kambing bekerja lumayan baik, namun ia tidak mempunyai otak yang cukup besar untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia membersihkan satu sisi ladang, lalu setelah selesai pada sisi itu ia pergi ke sisi lain dan melakukan hal yang sama. Ia tidak bekerja dengan rapi. Harimau segera memecat kambing tanpa memberikan upah untuknya.
Kemudian harimau mencoba mempekerjakan armadilo. Armadilo sangat kuat dan ia bekerja dengan baik. Masalahnya adalah, ia sangat suka makan. Di ladang harimau terdapat begitu banyak semut besar. Armadilo tidak dapat melewatkan makanan yang lezat ini. Baginya hari itu merupakan makan siang yang panjang. Harimau merasa kesal, memecatnya tanpa membayarkan upahnya.
Akhirnya kelinci menawarkan diri untuk bekerja. Harimau tertawa dan berkata,
“Kenapa, kelinci kecil, mau melakukan pekerjaan ini? Kera, kambing, bahkan armadilo gagal memberiku kepuasan atas pekerjaan mereka. Tentu saja hewan kecil sepertimu juga akan gagal.”
Bagaimanapun juga, tidak ada yang mau menawarkan diri untuk bekerja. Akhirnya harimau berkata pada kelinci bahwa ia akan mencoba bagaimana pekerjaan kelinci.
Kelinci bekerja dengan tenang dan rajin. Segera saja ia telah menyelesaikan sebagian besar ladang. Hari berikutnya juga sama, kelnci bekerja dengan sangat rajin. Harimau berpikir bahwa ia sangat beruntung telah mempekerjakan kelinci. Harimau merasa kelelahan karena terus berdiri mengawasi kelinci. Ia ingin berjalan-jalan sebentar dan menyuruh anaknya untuk mengawasi kelinci.
Setelah harimau pergi, kelinci bertanya pada anak harimau, “Apakah lembu yang akan menjadi bayaranku memiliki bintik putih di telinga kiri dan kanannya?”
“Bukan,” jawab anak harimau. “Bulunya berwarna kemerahan. Hanya ada sebuah bintik putih kecil di telinga kanannya.”
Si kelinci bekerja lagi untuk beberapa lama dan lalu berkata, “Apakah lembu yang akan ayahmu berikan padaku diikat di dekat sungai?”
“Ya,” jawab anak harimau.
Kelinci merencanakan akan pergi membawa lembu itu tanpa menyelesaikan pekerjaannya. Namun ketika dia akan pergi, harimau kembali. Harimau menyangka bahwa kelinci tidak bekerja dengan benar. Setelah itu dia tinggal sebentar dan memperhatikan kelinci bekerja sampai ia selesai membersihkan seluruh ladang. Lalu harimau memberikan lembu yang dijanjikannya pada kelinci.
“Kau harus membunuh lembu ini di tempat yang tidak terdapat lalat dan nyamuk.” Harimau menyarankan.
Kelinci pergi membawa lembunya. Setelah ia pergi agak jauh, ia berpikir untuk membunuh lembunya. Ia mendengar seekor ayam jantan yang berkokok tak jauh dari tempatnya dan mengetahui bahwa di sana pastilah terdapat sebuah ladang. Di sana pastilah terdapat banyak lalat. Ia pergi lagi dan kembali berpikir untuk membunuh lembunya. Di sana tanah terlihat lembab dan basah, juga dedaunan di sesemakan. Si kelinci tidak jadi membunuh lembunya karena ia yakin di sana pasti terdapat banyak nyamuk. Lalu ia pergi lagi dan akhirnya sampai ke sebuah tempat yang sangat tinggi dimana angin berhembus sangat dingin.
“Tidak ada nyamuk di sini,” katanya pada diri sendiri. “Tempat ini sangat jauh dari tempat tinggal manapun. Pasti juga tidak ada lalat.“ Ia memutuskan untuk membunuh lembunya di sana.
Ketika ia telah bersiap untuk memakan lembunya, datanglah si harimau. “O, kelinci, sungguh kau adalah temanku yang sangat baik,” kata si harimau. “kini aku sangat, sangat lapar hingga tulang igaku tampak menonjol seperti yang dapat kaulihat. Apakah kau kelinci yang sangat dermawan dan memberiku sepotong lembumu?”
Si kelinci memberi si harimau sepotong lembunya. Si harimau melahapnya dalam sekejap mata. Ia berbalik dan berkata, “Hanya segitukah yang akan kau berikan padaku untuk kumakan?”
Si harimau terlhat sangat besar dan mengerikan sehingga si kelinci menjadi tidak tega menolak memberinya lembu lagi. Si harimau makan dan makan sampai ia telah menelan semua potongan lembu milik si kelinci. Si kelinci hanya mendapatkan sepotong kecil saja. Dan kini ia sangat, sangat marah pada si harimau.
Pada suatu hari, tak lama setelah kejadian itu, si kelinci pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah si harimau dan mulai memotong kayu. Si harimau segera melihat apa yang terjadi dan bertanya apa yang si kelinci sedang lakukan.
“Aku sedang bersiap-siap untuk membangun benteng di sekelilingku,” jawab si kelinci. “Tidakkah kau mendengar perintah itu?” si harimau belum mendengar perintah apapun.
“Hm… itu agak aneh,” kata si kelinci. “Perintah itu telah menyebar bahwa setiap binatang liar harus membentengi dirinya dengan membangun benteng. Semua binatang sedang melakukannya.“
Si harimau menjadi sangat panik. “Ya ampun! Ya ampun! Apa yang harus kulakukan?” isaknya. “Aku tidak tahu bagaimana membangun benteng. Aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Oh, kelinci yang baik! Oh, kelinci yang baik! Kau adalah teman terbaikku. Dapatkah kau—kumohon padamu karena persahabatan kita yang telah terjalin lama—untuk membangunkan sebuah benteng untukku sebelum kau membuat untuk dirimu sendiri?”
Si kelinci menjawab bahwa ia tidak dapat memikirkan risiko yang akan didapatnya apabila ia membangun lebih dulu benteng untuk si harimau. Namun bagaimanapun juga, ia menyetujuinya.
Si kelinci memotong banyak sekali kayu panjang dan tajam. Ia menancapkannya dengan kuat ke tanah di sekeliling si harimau. Ia menguatkan yang lain dengan aman hingga ke atas sampai akhirnya si harimau telah tertutup sepenuhnya dengan potongan kayu yang kuat.
Si harimau menunggu dan menunggu sesuatu terjadi untuk menunjukkannya fungsi pertahanan yang dibuatkan untuknya. Namun tidak ada yang terjadi.
Ia menjadi sangat haus dan lapar. Beberapa saat kemudian seekor kera datang melewatinya. Si harimau berteriak keras, “O, kera, apakah bahaya telah berlalu?“
Si kera tidak mengetahui bahaya apa yang si harimau maksud, lalu berkata, “Ya.”
Lalu si harimau membalas, “O, kera. Kera yang baik, dapatkah kau menolongku dengan kebaikan hatimu untuk mengeluarkanku dari benteng ini?”
“Biarkanlah dia yang membuatkanmu benteng ini yang menolongmu keluar,” jawab si kera dan berlalu.
Tak lama kemudian tibalah kambing di sana. “O, kambing, apakah bahaya telah berlalu?“
Si kambing tidak mengetahui bahaya apa yang si harimau maksud, lalu berkata, “Ya.”
Lalu si harimau membalas, “O, kambing. Kambing yang baik, dapatkah kau menolongku dengan kebaikan hatimu untuk mengeluarkanku dari benteng ini?”
“Biarkanlah dia yang membuatkanmu benteng ini yang menolongmu keluar,” jawab si kambing dan berlalu.
Tak lama kemudian tibalah armadilo di sana. “O, armadilo, apakah bahaya telah berlalu?“
Si armadilo tidak mengetahui bahaya apa yang si harimau maksud, lalu berkata, “Ya.”
Lalu si harimau membalas, “O, armadilo. Armadilo yang baik, dapatkah kau menolongku dengan kebaikan hatimu untuk mengeluarkanku dari benteng ini?”
“Biarkanlah dia yang membuatkanmu benteng ini yang menolongmu keluar,” jawab si armadilo dan berlalu.
Si harimau melompat dan melompat dengan segala kekuatannya ke atas benteng, namun ia tidak dapat melewatinya. Ia melompat dan melompat dengan segala tenaganya ke arah depan benteng, namun ia tidak dapat melewatinya. Ia berpikir bahwa ia tidak akan mampu keluar. Ia beristirahat sebentar sambil berpikir. Ia berpikir betapa cerahnya langit bersinar di luar. Ia berpikir betapa banyaknya buruan yang menarik di dalam hutan. Ia berpikir betapa segarnya air yang mengalir dari mata air. Sekali lagi ia melompat dan melompat dengan semua tenaga yang dimilikinya ke arah belakang benteng. Dan ia berhasil! Namun meskipun demikian, ia tidak melewatinya tanpa mendapatkan luka di kedua sisi tubuhnya yang ia dapat dari goresan kayu yang tajam. Sampai hari ini, harimau mempunyai belang di kedua sisi tubuhnya. (from: Brazil’s Fairy Tales, How the Tiger Got His Stripes)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s