Perpisahan

10.08.2010
Akhirnya setelah menempuh halang dan rintangan demi mencapai gelar sarjana, akhirnya gelar itu diperoleh juga oleh salah seorang sahabat baik saya. Saya bahagia untuknya. Bahagia karena akhirnya dia mendapatkan hasil jerih payahnya setelah berkuliah selama lima tahun. Bahagia karena saya lulus lebih dulu darinya. Hahaha. Yah, tidak sebegitu jahatnya saya.
Dan sekarang setelah menyelesaikan satu ritual penentuan di kampus, ia memutuskan untuk meninggalkan lingkungan kampus dan kembali ke habitat aslinya. Entah mengapa perpisahan ini membuat saya merasa kehilangan sosoknya yang selama ini selalu menemani saya? Kami yang biasanya bersusah-susah bersama, yang cari makan bersama, jalan-jalan bersama, sampai mengisi teka-teki silang bersama. Kini ritual itu mungkin dan pastinya tidak akan terjadi lagi. Entahlah.
Di mana ada pertemuan pasti selalu akan ada perpisahan. Itu mutlak, sama seperti bahwa bumi itu lonjong. Namun perpisahan itu pastilah sangat menyakitkan. Kira-kira kenapa, ya? Mungkin karena kita sudah terbiasa bertemu dan nyaman dengan pertemuan itu sehingga kira merasa ada sesuatu yang hilang di tubuh ini ketika perpisahan menjemput. Yah, seperti seseorang yang kecelakaan dan harus merelakan tangannya untuk diamputasi dan butuh beberapa lama untuk terbiasa dengan keadaannya yang baru. Mungkin kurang lebih seperti itu.
Padahal, perpisahan itu tidak seburuk yang saya kira. Perpisahan itu bukan memisahkan kita selamanya, kematianlah yang bertugas untuk itu. Perpisahan masih bisa menakdirkan kita untuk bertemu kembali. Seperti yang saya alami ketika saya akhirnya memutuskan untuk sekolah di negeri orang dan berpisah dengan sahabat-sahabat SMA saya. Toh kami masih bertemu ketika ada kesempatan. Kami masih berkumpul, meskipun tidak lengkap, di sebuah pertemuan yang menyenangkan dan bernostalgia tentang masa lalu. Saya bisa menghadapi perpisahan itu, meskipun saya butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dengan keadaan saya yang baru. Situasi di mana saya harus kehilangan satu bagian dari hidup saya, satu buku yang kini sudah menuju epilog, satu momen yang harus saya nikmati pelan-pelan dan penuh perasaan. Sebuah proses yang rumit, namun pasti terjadi ketika kita harus merelakan seseorang pergi.
Yah, apapun itu, saya harus menghadapinya. Dulu saya sanggup menghadapi orang-orang yang meremehkan saya dan menganggap saya rendah. Masa untuk menghadapi hal sepele seperti ini saya harus menangis sambil menggaruk-garuk tanah? Saya sanggup menghadapi situasi apapun karena saya yakin saya tidak akan pernah menghadapi sebuah situasi yang tidak sanggup saya lewati. Tuhan itu maha adil. Karena itulah sebuah pantun tentang perpisahan selalu disenandungkan dan dibacakan sejak zaman kakek-nenek kita masih muda,

Bila ada sumur di ladang,
boleh kita menumpan mandi.
Bila ada umur panjang,
boleh kita berjumpa lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s