Antara Strategi dan Takdir

14. Aug. 2010
Saya merasa iri. Beberapa hari yang lalu saya ber-chatting ria bersama seorang teman lama. Kami bernostalgia sedikit dan saling menanyakan kesibukan saat ini. Saya yang notabenenya bekerja serabutan demi sepotong kentang merasa sedikit minder karena teman saya ini telah beberapa langkah lebih maju dari saya. Selama ini saya merasa terlalu angkuh dan menganggap orang lain lebih rendah dari saya. Tapi ternyata dalam persaingan yang sebenarnya, saya jauh lebih lamban dalam melangkah.
Teman saya ini bekerja sebagai penulis lepas di sebuah koran. Yah, setidaknya apa yang selama ini dia pelajari masih terpakai. Sedangkan saya? Masih harus kembali ke dasar. Tidak seperti cita-cita saya yang dulu: ingin menjadi penulis. Apa yang sudah saya tulis? Entahlah, hanya beberapa kebohongan besar yang kadang tampak sangat bodoh.
Saya tidak tahu kenapa tahun-tahun belakangan ini saya merasa mandul dalam berkarya. Kebanyakan saya lebih memilih untuk menerjemahkan karya orang lain. Itu pun kadang-kadang dengan bahasa yang carut-marut. Dulu saya mempunyai sebuah resolusi yang hebat: ingin merilis sebuah novel. Tapi apa? Novel itu bahkan berhenti di tengah buku pertama. Saya tiba-tiba kehilangan ide untuk melanjutkan karena setelah saya baca lagi, saya bahkan tidak mengerti dengan apa yang saya tulis. Mungkin saya kurang pengalaman dan pemandangan yang bisa dituangkan ke dalam buku saya. Dan mungkin saya terlalu moody dengan prospek ini sehingga saya terkatung-katung dalam menjalankannya.
Atau jangan-jangan saya tidak cocok untuk menjadi seorang penulis? Mungkin saya lebih pantas dalam bidang yang lain, bukan menulis. Mungkin saya harus mencari hal lain yang lebih saya kuasai. Seperti mungkin memasak. Atau mungkin sebagai orang yang dapat mengatur keuangan dengan baik?
Sebenarnya, mungkin saya kurang banyak berlatih. Hal terpenting untuk dapat menguasai sebuah kemampuan adalah dengan cara sering-sering bertemu dengannya. Mungkin saya harus banyak menulis, harus banyak membaca dan berjalan-jalan untuk mendapatkan inspirasi. Saya juga tidak boleh pesimis dan terus berjuang untuk meraih keinginan saya, menjadi seorang penulis. Seharusnya saya tidak boleh terlalu memandang ke atas, tetapi juga jangan selalu melihat ke bawah. Anggaplah orang yang di atas sebagai motivasi bahwa kita juga pasti akan berada di atas (suatu hari nanti), dan orang yang di bawah sebagai sebuah memori, bahwa kita pernah dan akan seperti itu.
Seperti yang saya kutip dari sebuah judul berita di salah satu stasiun televisi: Antara Strategi dan Takdir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s