Rearrange

Saya sedang duduk di dalam sebuah bus umum yang berjalan bagai angin sepoi-sepoi. Pada saat itu saya menerawang ke masa lalu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Apa yang membuat saya teringat kejadian masa lalu tersebut adalah perasaan saya yang sama persis seperti saya ketika SD dulu.

Saya teringat, bahwa pagi itu saya bangun terlambat, sementara saya dan kakak saya harus berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat masuk sekolah. Saat itu ayah saya tidak dapat mengantar kami ke sekolah karena beliau sedang berada di negeri seberang demi menimba ilmu untuk kepentingan negara. Kami bertiga harus berangkat sendirian.

Sebetulnya, saya bangun tidak terlalu siang dan kalaupun saya melakukan rutinitas pagi tanpa terburu-buru, saya tidak akan terlambat masuk sekolah. Tapi entah kenapa saya merasa kesal pada pagi itu, yang berbuntut sampai sore tiba. Biasanya, saya lah anak pertama yang menggunakan kamar mandi di rumah kami. Saya bangun lebih pagi dari saudara-saudara saya, dan menjadi orang pertama yang meletakkan jejak di dalamnya. Tetapi pada hari itu, ketika saya bangun, saya melihat kamar mandi telah diisi lebih dulu oleh salah satu kakak saya, yang selalu menggunakan kamar mandi lebih dari batas wajar.

Hal yang membuat saya kesal adalah bukan karena penantian yang harus saya lakukan untuk dapat menggunakan hak saya di dalam kamar mandi tersebut, atau karena kelakuan kakak saya yang berlama-lama di dalamnya; melainkan karena bukan sayalah yang masuk ke dalam kamar mandi tersebut terlebih dahulu. Bukan saya orang pertama yang menghabiskan air mandi, tetapi kakak saya.

Perasaan itu muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun saya alami. Mungkin hal yang saya ceritakan di atas memang tidak logis, tetapi saya merasa itu wajar, karena ketika itu saya masih kecil dan egois. Tetapi sekarang perasaan yang sama mencuat kembali setelah saya melihat seorang teman saya, yang seharusnya ia lebih muda dari saya dalam berbagai hal, sedang membawa hasil tulisan akhir untuk kelulusannya.

Hal tersebut menohok hati saya sangat dalam. Saya teringat akan bahan saya yang sudah beberapa hari belum saya sentuh lagi. Sama sekali belum ada apa-apanya. Saya merasa bumi runtuh seketika, saat saya mendengar bahwa dia akan mengikuti ujian akhir pada bulan ini. Sedangkan saya? Apa yang saya lakukan selama ini? Saya dan dia memulai pada saat yang sama. Tetapi kenapa dia lebih dulu selesai daripada saya? Kenapa saya bisa belum selesai?

Kedua kejadian ini menimbulkan efek yang sama dalam diri saya: saya merasa dikalahkan. Apabila posisinya saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya mungkin akan menangis dan merasa tidak senang dengan situasi ini. Tapi kini saya tidak lagi seorang bocah ingusan yang seperti Freud katakana, hanya mementingkan id-nya yang bertugas untuk memuaskan insting-insting yang ada di dalam dirinya tanpa memikirkan kembali untuk apa saya bersikap seperti itu dan apakah wajar apabila saya bersikap seperti itu. Kini saya sudah lebih besar dari itu, jauh lebih mengerti untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan apabila saya sedang berada di sebuah situasi.

Saya hanya bisa termangu dan berfilosofi di dalam bus yang semakin panas karena angin yang masuk bercampur dengan timbal dan debu. Meskipun saya merasa dunia ini serasa runtuh setelah saya dikalahkan, tetapi saya tidak boleh merasa egois karena semua yang terjadi bukanlah salah dunia sepenuhnya. Sebagian otak dari kejadian ini adalah saya sendiri. Saya yang membuat situasi menjadi seperti ini, dan saya pula yang menyesali situasi yang saya ciptakan.

Seperti yang saya katakan, sewaktu kecil kita hanya bermain dengan id, salah satu sistem kepribadian yang diterangkan Freud. Si anak belumlah mengenal ego, apalagi superego. Namun setelah dewasa, kesempurnaan superego membuat manusia lebih bertanggung jawab. Nah, masalahnya adalah bahwa saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah meletakkan id sebagai pengatur diri saya dan bukannya superego yang seharusnya juga memiliki hak untuk mengambil alih diri saya. Saya mengesampingkan hal yang seharusnya saya kerjakan secepatnya, dan justru mendahulukan hal-hal tidak penting yang lahir dari ketidaksadaran saya. Dan akhirnya, saya menyesal karena saya merasa kalah dan mengkambinghitamkan dunia yang tidak berpihak kepada saya.

Saya tidak punya sesuatu yang dapat dipetik dari tulisan ini. Saya merasa kebodohan saya ini tidak pantas untuk diterapkan dalam kehidupan manapun. Seperti kata pepatah, dia yang menanam benih, dia pula yang merasakan hasilnya. Saya menanam benih kemalasan dalam diri saya, membiarkan diri saya dikuasai insting-insting yang tertahan, menolak menghadapi kenyataan, dan selalu menghindar; maka saya pula lah yang merasakan hasil dari perbuatan saya itu. Saya tertinggal dari teman-teman, bahkan dikalahkan junior saya, perasaan iri yang membabi buta, rasa bersalah pada diri sendiri dan orang-orang sekitar, ketakutan akan kembali dikalahkan, dan masih banyak lagi emosi yang berputar dan bercampur dalam diri saya.
Mungkin sudah saatnya saya mengkoreksi diri sendiri, bagian mana dalam diri saya ini yang harus segera diperbaiki. Saya harus menata kembali hidup saya yang sempat terbengkalai agar saya dapat merasakan indahnya kebahagiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s