Ketika Masa Itu

Seumur hidup, saya baru dua kali mendapatkan beasiswa. Kedua beasiswa itu saya dapatkan di universitas. Beasiswa pertama adalah beasiswa berupa uang, yang membuat saya tidak perlu meminta uang SPP selama dua semester kepada ayah saya. Yang kedua adalah dari sebuah institusi yang senang memberikan beasiswa setiap tahunnya kepada orang-orang terpilih untuk di kirim ke negeri mereka untuk mempelajari beberapa dan banyak hal.
Bukannya saya ingin menyombongkan diri dengan dua beasiswa yang saya peroleh, melainkan saya ingin menunjukkan sisi lain yang terjadi dalam hidup saya ketika saya memperoleh beasiswa itu. beasiswa pertama tidaklah menarik untuk diceritakan karena itu hanya aji mumpung bagi saya, meskipun beasiswa kedua menurut saya sebuah aji mumpung juga. But, this is my adventure.
Saya mendengar seorang teman seangkatan yang mengikuti program beasiswa ini. Saya agak berkecil hati karena saya tidak diikutsertakan, padahal saya merasa saya cukup berusaha keras untuk belajar dan memperoleh nilai yang bagus (dari sini terlihat bahwa saya kuliah demi nilai cum laude). Teman saya dan beberapa orang angkatan di atas saya dipilih untuk diseleksi untuk menerima beasiswa ini. Setelah pertarungan yang alot, akhirnya teman saya ini terpilih menjadi satu-satunya kandidat terbaik yang akan di kirim ke sana. Saya, sebagai teman seangkatan dan dulu masih bisa dibilang dekat dengannya, merasa bangga pada teman saya karena dia telah mengalahkan senior-senior yang begitu berambisi untuk memperoleh beasiswa ini.
Akhirnya, berangkatlah ia ke tanah nan jauh dan dingin itu. Pulangnya, begitu banyak hal yang diceritakannya padaku. Banyak kejadian dan banyak pengalaman yang pastinya tak terlupakan. Aku senang mendengarnya karena dia memang pantas mendapatkan itu. Selain dia sangat royal pada pendidikan yang kami ambil, ia adalah salah satu harapan bangsa yang mungkin bisa membantu negara meningkatkan kecerdasan rakyatnya. Dengan pengalamannya itu, dia bisa menambah referensi dan ilmu yang akan diturunkannya ke anak didiknya kelak.
Saya yang orangnya sangat cemburuan terhadap kesenangan orang lain merasa terinspirasi untuk berimajinasi bahwa sayalah anak yang terpilih untuk tahun depan. Betapa senangnya berada di negeri orang dan belajar budaya mereka, belajar banyak hal yang tidak ada di sini (walaupun sekarang arus globalisasi sudah membawa banyak efek terhadap budaya dan teknologi). Imajinasi saya semakin liar sampai-sampai saya berani berpikir bahwa saya kelak akan mendapatkan seorang bule untuk saya jadikan calon suami (padahal waktu itu saya baru saja punya teman yang sangat dekat).
Dan selama imajinasi itu terus bermain di kepala saya, tiba-tiba seorang teman membuka kepala saya dan mengatakan bahwa imajinasi itu akan menjadi kenyataan. Wah, hal ini juga tidak saya rencanakan sama sekali. Untuk bisa mendapatkan akses menuju beasiswa itu, seseorang harus sering-sering datang ke jurusan (hal yang sama sekali jarang saya lakukan). Teman saya berkata bahwa ia telah mendaftarkan saya untuk beasiswa ini karena kuotanya masih untuk satu orang lagi. Dia menyebut nama saya sebagai salah satu kandidat untuk memperoleh beasiswa ini. Saya hanya melongo mendengarnya, karena secara teori, saya tidak mungkin akan dilihat oleh dosen-dosen di jurusan itu. Namun pada kenyataannya, saya masuk juga ke dalam istana bertembok baja itu.
Apapun itu, saya tidak berharap banyak, mengingat saingan saya sangat sulit dikalahkan. Salah satunya adalah seorang mahasiswi terpintar di seluruh kampus. Dengan berbagai prestasi yang didapatnya, mana mungkin saya bisa mengalahkan dia. Toh penyelenggara tiap tahunnya hanya mengeluarkan satu nama saja kepada universitas kami. Walaupun begitu, saya tetap mengikuti prosedur yang ada. Saya tidak terlalu berharap banyak dengan pemilihan ini. Ditambah lagi, akan ada tes wawancara dan tes bahasa. Nah, mana mungkin saya bisa mendapatkan nilai yang bagus. Saya tidak benar-benar serius dengan pemilihan ini karena saya sudah minder duluan dengan saingan saya. Saya tidak merasakan ambisi apapun dalam beasiswa ini karena saya merasa saya tidak mungkin mendapatkannya.
Tes wawancara saya lalui dengan aman. Sebenarnya, saya tidak banyak bicara ketika diwawancara. Si dosen penguji yang lebih banyak memperjelas maksud saya. Namun saya benar-benar mengungkapkan keinginan saya ketika menulis motivation’s letter. Dan mungkin saja memang itulah yang menjadi nilai plus saya. Mungkin.
Tes bahasa pun tidak lebih baik dibandingkan tes wawancara. Saya memperoleh nilai 49% benar. Artinya, saya hanya dapat menjawab pertanyaan kurang dari setengahnya. Memalukan memang. Di sini saya menyadari bahwa saya terlalu sombong dengan nilai bagus yang selama ini saya dapatkan. Ternyata nilai-nilai cum laude itu saya dapat dari keberuntungan saja. Kalau dipraktekkan, saya tidak lebih dari seorang bayi yang baru belajar bicara.
Nah, masa penantian adalah masa yang membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang. Lima bulan bukanlah masa penantian yang menyenangkan. Namun karena saya tidak terlalu berharap dengan beasiswa ini, saya tidak terlalu menantinya. Saya menjalani rutinitas seperti biasa: bermain, pusing dengan tugas-tugas kuliah, dan berimajinasi. Saya pun sempat melupakan beasiswa ini saking saya tidak mengharapkannya.
Dan sampailah pada suatu hari, ketika penantian saya dan teman-teman berakhir. Pengumuman beasiswa itu datang juga. Namun, pengumuman itu tidak datang ke semua anak, melainkan hanya kepada anak-anak yang terpilih. Dari tujuh belas siswa yang terpilih, nama saya tercantum di nomor paling akhir. Well, antara percaya dan tidak, saya ingin menjerit di warnet tempat saya membuka e-mail tersebut. Namun untungnya saya masih waras dan hanya tersenyum-senyum seperti orang gila, hingga saya sampai di kamar.
Saya segera memberitahu semua teman-teman kandidat beasiswa (yang merupakan hal terbodoh yang saya lakukan ketika itu), dan menyuruh mereka membuka e-mail mereka masing-masing. Saya memberitahu teman dekat saya dan mengabari orangtua saya yang langsung dengan suara serak memberikan selamat. Wah, padahal ini bukanlah sesuatu yang besar. Saya tidak S-2 di sana, saya hanya berlibur selama sebulan.
Mungkin ini sebuah kebanggaan bagi orangtua saya karena belum ada anaknya yang bisa membuat mereka bangga. Saya pun merasa sedikit bangga dengan satu hal ini karena semumur hidup saya belum pernah ada orang yang mengetahui kemampuan saya yang sebenarnya, termasuk saya sendiri. Sekarang saya menyadari bahwa saya pun punya suatu kelebihan yang patut saya banggakan. Hal ini seharusnya bisa menjadi pemicu bagi saya untuk terus berusaha namun tetap berkepala dingin. Satu hal yang saya rasakan ketika berada dalam masa-masa itu adalah bahwa ambisi yang terlalu besar akan memanaskan kepala saya, membuat saya tidak bisa berpikir jernih. Ketika saya menjalani satu hal dengan tetap tenang dan tidak berharap terlalu besar, mungkin saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan itu. Saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya mengikhlaskan sesuatu itu terjadi. Rasanya seperti saya tidak mempunyai beban di pundak saya.
Well, apapun itu, tetap saja saya berpikir semua ini hanyalah kebetulan dan keberuntungan belaka. Keberuntungan dan kebetulan yang tidak akan bisa saya lupakan seumur hidup, dan berharap akan terjadi lagi pada diri saya. Semoga di lain kesempatan saya bisa membuktikan kepada dunia bahwa kelahiran saya di dunia ini sangat berpengaruh dan saya mempunyai andil besar di dalam tanah yang saya pijak dengan raga saya yang fana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s