Bagaimana Kelinci Kehilangan Ekornya

Pada zaman dahulu kala, kelinci memiliki ekor yang panjang, sedangkan kucing tidak. Kucing merasa iri melihat ekor panjang kelinci, yang seharusnya juga dimilikinya.
Kelinci tidak pernah peduli pada binatang buas. Pada suatu hari ketika ia tidur dengan ekor panjangnya membentang di belakang, kucing datang sambil membawa sebuah pisau tajam. Dengan satu ayunan, ia memotong ekor kelinci tersebut. Kucing sangat bersemangat dan ketika ia akan menjahitkan ekor kelinci ke tubuhnya, kelinci melihat apa yang telah dilakukan kucing.
“Bagaimana menurutmu, ekor ini lebih cocok untukku daripada untukmu, kan?” tanya kucing.
“Yah, kau lebih pantas memiliki ekor yang panjang,” jawab kelinci yang baik hati dan tidak sombong. “Sebenarnya ekor itu terlalu panjang untukku. Aku punya penawaran: aku akan memberikan ekorku padamu jika kau mau memberiku pisau yang tajam itu.”
Kucing setuju dengan penawaran itu. ia memberikan pisaunya, lalu pergi masuk ke hutan dengan ekor barunya yang indah.
“Aku kehilangan ekorku, tapi aku mendapatkan pisau,” kata kelinci. “Jika aku beruntung aku akan mendapatkan ekor baru atau sesuatu yang lain.“
Kelinci melompat sepanjang hutan untuk waktu yang cukup lama sampai ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang sedang sibuk menganyam keranjang. Ia begitu sibuk membuat keranjang, dan menggigit anyaman dengan giginya ketika selesai menganyam sebuah keranjang. Ia melihat kelinci membawa pisau di mulutnya.
“Tuan Kelinci yang baik,” kata laki-laki tua itu. “Bolehkah aku meminjam pisau yang ada di mulutmu itu? Sulit sekali memotong anyaman ini dengan gigi jika kau ingin bekerja cepat.”
Kelinci mengizinkan laki-laki tua untuk menggunakan pisaunya. Pak Tua mulai memotong, namun tiba-tiba terdengar suara keras dan kelinci melihat pisaunya terbelah dua.
“Oh tidak! Ya Tuhan!” isak kelinci. “Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan? Kau telah mematahkan pusau baruku.”
Pak Tua meminta maaf dan berkata bahwa ia tidak bermaksud mematahkan pisau kelinci.
“Pisau yang patah ini tidak ada gunanya bagiku, mungkin engkau masih bisa menggunakannya meskipun pisaunya sudah terbelah dua.” kata kelinci. “Begini saja, maukah engkau menukar pisauku dengan satu keranjang yang kaubuat?”
Pak Tua setuju, ia memberi kelinci salah satu keranjang yang telah selesai dianyamnya, dan kelinci kembali melanjutkan perjalanannya.
“Aku kehilangan ekorku, tapi aku mendapatkan pisau. Aku kehilangan pisauku, tapi aku mendapatkan sebuah keranjang.“ kata kelinci. “Jika aku beruntung aku akan mendapatkan ekor baru atau sesuatu yang lain.“
Kelinci kembali melanjutkan perjalanannya ke hutan untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya ia sampai di sebuah ladang. Di ladang itu ia melihat seorang wanita tua yang sedang sibuk mencabuti selada. Ia mengumpulkan selada di dalam kantong rok kerjanya. Lalu ia melihat kelinci dan keranjang barunya.
“Tuan kelinci yang baik,” katanya. “Bolehkah aku meminjam keranjangmu untuk membawa selada-selada ini?”
Kelinci meminjamkan keranjangnya. Wanita tua memasukkan selada-selada miliknya ke dalam keranjang. Namun tiba-tiba dasar keranjang itu jebol dan semua selada jatuh ke tanah.
“Oh tidak! Ya Tuhan!” isak kelinci. “Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan? Kau telah merusak keranjang baruku.”
Si wanita tua meminta maaf dan berkata bahwa ia tidak bermaksud merusak keranjang kelinci.
“Aku akan memberikan keranjang ini padamu, jika engkau mau memberiku selada.” kelinci memberikan penawaran.
Wanita tua itu setuju. Ia memberi kelinci beberapa ikat selada. Kelinci melanjutkan perjalanannya sambil berkata,
“Aku kehilangan ekorku, tapi aku mendapatkan pisau. Aku kehilangan pisauku, tapi aku mendapatkan sebuah keranjang. Aku kehilangan keranjangnku, tapi aku mendapatkan beberapa ikat selada.“
Beberapa saat kemudian, kelinci merasa lapar, dan dia mencium betapa wanginya selada-selada ini. Kelinci menggigit selada dan merasa bahwa dia baru saja memakan makanan paling enak yang pernah dimakannya seumur hidup.
“Aku tidak peduli jika aku kehilangan ekorku. Aku telah menemukan sesuatu yang lebih baik,“ katanya.
Sejak saat itu, tidak ada kelinci yang mempunyai ekor panjang lagi. Tidak ada kelinci yang peduli bahwa mereka tidak mempunyai ekor. Dan sejak saat itu pula tidak ada kelinci yang tidak menyukai selada. (From: How and Why Tales from Brazilian Folk-Lore by Elsie Spicer Eells 1917: HOW THE RABBIT LOST HIS TAIL)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s