Jatinangor oh Jatinangor

Sudah lama sekali saya tidak menulis. Hal yang mengganggu adalah, saya merasa bahwa kemampuan menulis saya mendadak menurun, sehingga saya sering merasa malas untuk menulis. Selain itu saya juga kadang merasa tidak punya bahan untuk menulis. Hal ini membuat saya kembali ke habitat saya, membaca komik. Namun senang sekali bahwa hari ini saya punya bahan untuk menulis karena kali ini saya merasa dipaksa untuk membahas masalah yang satu ini.
Minggu ini saya membeli sebuah koran nasional yang memang terkenal sejak jaman perang sampai sekarang. Artikel yang sering menarik perhatian saya dalam koran edisi hari minggu adalah cerita tentang kehidupannya. Mulai dari kehidupan yang telah menjadi mitos di Indonesia, kehidupan yang lenyap dan berganti seiring perkembangan peradaban, serta kehidupan yang ironis dan menyedihkan. Satu artikel yang menarik saat saya membuka halamannya adalah sebuah kehidupan yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Yah, sebenarnya saya hidup di dalamnya. Sebuah kehidupan yang mengenaskan setelah ditinggal kebahagiaan dan harta terindah dalam hidup mereka. Saya kini sedang berada di sebuah permukiman yang dipenuhi oleh perantau yang menuntut ilmu, namun mereka tidak benar-benar mengetahui ilmu apa yang sebenarnya mereka dapatkan. Saya sedang berdiri di sebuah tempat yang dulunya adalah hutan yang dipenuhi pohon karet, yang merupakan sumber kehidupan penduduk sekitar.
Ya, Jatinangor menurut sejarahnya merupakan hutan karet yang sangat luas. Pemiliknya adalah seorang berkebangsaan Jerman dan pekerjanya merupakan penduduk sekitar. Setelah kemerdekaan Indonesia, kebun ini diambil alih kepemilikannya oleh Negara. Namun kebun karet yang telah menjadi napas bagi setiap penduduk yang hidup di sekitarnya ini telah diambil karena perencanaan kawasan pendidikan. Sekitar tahun delapan puluhan, kebun karet ini dialihfungsikan menjadi beberapa universitas di Jawa Barat, baik negeri maupun swasta. Saya rasa teman-teman tahu universitas apa saja yang muncul di sana, yang mengubah wajah Jatinangor menjadi lebih ‘keras‘ dan ‘modis‘.
Koran tersebut menyebutkan bahwa tanah warga yang dulu hanya berharga sekitar Rp 32.000 per tumbak ditawar hingga Rp 400.00 per tumbak-nya. Tentu saja warga mau menjualnya. Namun tidak ada sosialisasi dari pembeli, apa yang akan mereka lakukan terhadap tanah yang dibeli tersebut. Nyatanya, mereka menyulap kebun karet tersebut menjadi kampus. Mereka mengubah keindahan alam menjadi beton-beton dan semen yang berdiri di atas tanah produktif yang seharusnya bisa membantu kelangsungan hidup mereka sendiri. Nah, si pemilik tanah sebelumnya ini menjadi kehilangan harta dan investasi masa depan mereka, serta harus menjadi budak di tanah sendiri.
Tidak hanya sampai di situ, para orang-orang ‘pintar’ dari kota bermaksud mengadakan investasi seumur hidup di tanah ini. Mereka memanfaatkan momen pembuatan kota pendidikan dengan ramai-ramai membeli mahal tanah warga untuk dijadikan kos-kosan. Alhasil, tanah yang dulunya dipakai untuk menanam padi, atau sayur-sayuran atau semacam itu, berubah menjadi kos-kosan yang kini telah dicemarkan oleh ‘tempat tidur panas‘ mahasiswa. Sejak saat itu, Jatinangor berubah dari desa kecil yang nyaman dan hijau menjadi kota pendidikan yang panas dan sumpek (bahkan mahasiswa sendiri sering mengeluh dengan panas di Jatinangor, padahal secara tidak langsung mereka pun telah merusak Jatinangor itu sendiri.
Kesemerawutan Jatinangor makin menjadi-jadi karena orang-orang berhamburan datang untuk mencari tanah yang dijual, yang nantinya akan dipakai untuk mendirikan pabrik uang. Tidak perlu arsitek atau orang-orang dari pekerjaan umum untuk menata kota ini, karena egoisme dan takdir telah bertindak terlebih dahulu menata Jatinangor menjadi kota pendidikan yang ‘nyaman‘.
Kenyamanan Jatinangor sedikit terusik dengan sebuah plaza yang berdiri pada tahun 2006. Saya sendiri menyaksikan perkembangan pembangunan plaza ini. Saya masih ingat dulu ketika saya masih menjadi mahasiswa baru, tempat yang kini telah berdiri plaza itu merupakan tanah gelap gulita, yang saya sendiri tidak berani berjalan dekat-dekat sana sendirian. Namun kini, saya tidak perlu takut lagi karena di sana sudah berdiri sebuah bangunan yang selalu bercahaya. Ditambah, plaza ini menyediakan bioskop, yang seharusnya tidak diperbolehkan ada di kawasan pendidikan.
Bodohnya, ada mahasiswa yang diwawancarai dan ia berkata bahwa Jatinangor masih kekurangan tempat hiburan. Weleh, memangnya ke sini mau kuliah atau mau hiburan? Saya pikir, semua mahasiswa itu datang untuk menuntut ilmu. Kalaupun ingin hiburan, tentunya tidak berada di dalam kawasan pendidikan itu sendiri. Pantas saja mahasiswa jaman sekarang bisanya cuma bersenang-senang dengan dunia mereka sendiri, dan bukannya melihat ke bawah dan bersyukur bahwa mereka mengecap pendidikan lebih tinggi dibandingkan orang lain di sekitar mereka.
Well, memang sulit untuk menjadi seoran mahasiswa yang baik. Godaan masa muda adalah salah satu penyebabnya. Apalagi sekarang teknologi semakin canggih sehingga gaya hidup cepat berganti dan menjadi sangat modern. Saya pun merasa bahwa kadang saya lupa tujuan saya merantau jauh-jauh dari negeri seberang. Hal ini tidak lain karena cepatnya peradaban di Jatinangor dibangun oleh penerus kehidupan bangsa. Namun semakin saya hadapi, semakin saya sadari bahwa saya telah berada di dalam lingkungan yang salah. Mahasiswa itu adalah harapan bangsa untuk menjadikan negara menjadi lebih baik. Namun kalau keadaannya begini, bagaimana negara bisa maju? Jadi tidak heran jika Indonesia tidak maju-maju. Indonesia seolah berlari tempat (seperti yang di fitnes-fitnes itu, lho. Lari, tapi tetap di tempat).
Wah, saya kok jadi ngomong ngelantur begini, ya? Inilah yang saya maksud dengan penurunan kemampuan menulis. Saya sering menulis dengan tema A, tapi di akhir cerita tema sudah berganti menjadi B. Tapi ya sudah, lah. Saya sudah capek-capek menulis, sia-sia, dong, kalau saya SHIFT + DELETE lagi. Saya hanya berharap dengan menulis ini saya bisa kembali membangunkan kemampuat menulis saya yang sempat tidur panjang dan lupa bangun ketika dia dibutuhkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s