Bani si Pemalas


Pada suatu hari hiduplah seorang pemuda bernama Bani yang tinggal bersama ibunya. Mereka sangat miskin. Ibunya bekerja memintal benang, sedangkan Bani sangat pemalas. Ia menghabiskan waktunya dengan berjemur di bawah cahaya matahari musim kemarau, atau duduk bergulung selimut di temat tidurnya ketika musim hujan tiba. Orang-orang menyebutnya Bani si Pemalas. Ibunya tidak dapat melakukan apapun terhadapnya. Hingga pada suatu senin ibunya berkata, jika ia tidak mulai bekerja, maka mereka akan kelaparan karena tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.
Keesokan harinya Bani meminta pekerjaan pada seorang petani yang memberinya beberapa keping uang sebagai upahnya hari itu. Namun ketika sampai di rumah, uangnya sudah tidak ada. Uang itu jatuh ketika Bani menyeberangi selokan.
“Anak yang bodoh,” kata ibunya. “Kau harus menaruh uangmu di dalam sakumu.”
“Aku akan melakukannya lain kali,“ Bani menjawab.
Pada hari rabu Bani bekerja menjadi gembala sapi. Ia diberi imbalan sekendi susu. Bani mengambil kendi susu tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong jaketnya. Kendi susu itu tumpah sebelum ia sampai di rumah.
“Oh kasihannya aku!” kata ibunya. “Seharusnya kau membawanya di atas kepalamu!”
“Aku akan melakukannya lain kali,“ kata Bani.
Pada hari kamis, Bani kembali lagi ke petani yang setuju memberinya keju sebagai upahnya. Ketika pulang, Bani membawa keju itu di atas kepalanya. Ketika sampai di rumah, keju itu sudah busuk dan rusak, dan menempel di rambutnya.
“Kau ini bodoh sekali!“ kata ibunya. “Seharusnya kau membawanya dengan hati-hati di tanganmu!“
“Aku akan melakukannya lain kali,“ kata Bani.
Pada haru jumat, Bani bekerja pada seorang pembuat roti, yang memberinya seekor kucing sebagai imbalan. Bani membawa kucing itu pulang dengan sangat hati-hati di tangannya. Namun si kucing mencakarnya dan kucing itu terlepas dari tangannya. Bani membiarkan kucing itu pergi. Ketika di rumah, ibunya berkata,
“Kau ini bodoh sekali. Seharusnya kau mengikatnya dan membiarkannya berjalan di depanmu.“
“Aku akan melakukannya lain kali,“ Bani menjawab.
Pada hari sabtu Bani berkerja pada seorang tukang daging yang memberinya imbalan sepotong besar daging domba. Bani mengikat daging domba tersebut dan menariknya di tanah, sehingga ketika sampai di rumah, daging itu rusak. Kali ini ibunya sedikit bersabar terhadap ulah anaknya karena besok adalah hari minggu. Ia hanya berpesan,
“Ingat, anakku, besok kau harus membawanya di bahumu.“
“Aku akan melakukannya besok,“ Bani menjawab.
Pada senin berikutnya Bani si Pemalas bekerja lagi sebagai penggembala sapi. Si pemilik sapi-sapi memberinya seekor keledai sebagai imbalan pekerjaannya. Namun Bani merasa keberatan untuk menggendong keledai di bahunya. Namun akhirnya ia berhasil, dan mulai berjalan pulang ke rumah dengan hadiahnya tersebut.
Dalam perjalanan pulangnya, ia melewati sebuah rumah seorang yang kaya, yang memiliki seorang putri yang bisu dan tuli. Dia tak pernah tersenyum seumur hidupnya dan dokter berkata bahwa dia tidak akan pernah bisa bicara sampai ada orang yang dapat membuatnya tertawa. Gadis ini sedang menatap ke luar jendela ketika Bani melewati rumahnya sambil membawa keledai di bahunya, yang kakinya menggantung ke udara, dan tampak sangat lucu. Hal ini membuat gadis itu tertawa, pendengarannya membaik, dan ia dapat berbicara kembali. Ayah si gadis terkejut. Ia memenuhi janjinya untuk menikahi Bani dengan anak gadisnya. Sejak itu, Bani hidup berkecukupan di rumah yang besar. Ia membawa serta ibunya dan mereka bahagia selamanya. (English Fairy Tales. Collected by: Joseph Jacobs: LAZY JACK.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s